Kalau tidak salah 2 hari yang lalu, istriku memberi tahu kalau Ibu Umi, guru kelas Faiqa anak sulung perempuanku menghubunginya melalui WA dan meminta Faiqa agar mengikuti challenge yang diadakan dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2020. Melihat flyernya sepertinya kegiatan ini difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan RI.
Tantangan (Challenge) tersebut adalah mengunggah ke instagram foto dengan selembar kertas berisi Pesan kreatif bertema : Cegah Anak dan Remaja Indonesia dari “BUJUKAN” Rokok. Hal ini bertujuan mencegah anak dan remaja Indonesia dari “BUJUKAN” rokok. Batas pengiriman foto sendiri dari 27 Mei hingga 2 Juni 2020.
Baru Sabtu siang kemarin (30/05/2020), Faiqa ku minta mengerjakan poster tersebut. Setelah membantu dengan memberikan konsep poster. Maka Faiqa mulai mengerjakannya. Sesekali aku yang sedang bekerja di depan laptop dan istriku yang sedang memasak untuk makan siang juga turut membantu. Agar tugasnya cepat selesai. Lalu setelahnya bisa segera dilakukan pemotretan dan diunggah di instagram.
Tentang Hari Tanpa Tembakau Sedunia sendiri kegiatan ini diperingati oleh WHO, Negara-negara Anggota, dan mitra-mitra setiap tanggal 31 Mei. Kampanye global tahun 2020 ini bertujuan untuk membantah mitos-mitos dan memberdayakan generasi muda dengan pengetahuan yang diperlukan untuk melawan taktik-taktik industri yang dirancang untuk menarik remaja agar merokok.
Data terbaru dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2019 yang dirilis pada hari ini menunjukkan bahwa 40,6% pelajar di Indonesia (usia 13-15 tahun), 2 dari 3 anak laki-laki, dan hampir 1 dari 5 anak perempuan sudah pernah menggunakan produk tembakau: 19,2% pelajar saat ini merokok dan di antara jumlah tersebut, 60,6% bahkan tidak dicegah ketika membeli rokok karena usia mereka, dan dua pertiga dari mereka dapat membeli rokok secara eceran.
Data GYTS juga menunjukkan hampir 7 dari 10 pelajar melihat iklan atau promosi rokok di televisi atau tempat penjualan dalam 30 hari terakhir, dan sepertiga pelajar merasa pernah melihat iklan di internet atau media sosial.
Saat ini, kita menghadapi tantangan kesehatan baru di masyarakat, yaitu COVID-19. Relevansi COVID-19 dengan masalah-masalah kesehatan masyarakat yang belum terselesaikan tidak dapat diremehkan. Dalam masa yang penuh tantangan ini, upaya-upaya kesehatan masyarakat membutuhkan dukungan global melalui mandat dan konsultasi global agar dapat berfungsi secara efisien.
Atas apa yang disampaikan WHO tersebut makanya dalam challenge ini para peserta yang ikut selain menuliskan #HTTS2020, di setiap poster mereka juga harus menuliskan #tolakbujukanrokok dan #perokokrentancovid19. Sedangkan pesan di poster Faiqa yang diikutkan pada ajang ini adalah "SAYA INGIN HIDUP SEHAT, SAYA MENOLAK BUJUKAN ROKOK".
Hampir 1 jam Faiqa menyelesaikan posternya. Yang menggelikan bagiku dan istriku adalah ketika Faiqa mau menggambarkan bentuk telapak tangan sebagai simbol penolakan. Yakni dengan cara menempelkan telapak tangannya yang sudah diberi pewarna. Akan tetapi telapak tangannya terlalu besar, hingga tidak cukup di bagian kosong lembar poster. Hingga akhirnya, telapak tangan sang adik, Difa yang menjadi korbannya. Difa harus rela tangannya dikuas dengan cairan pewarna makanan berwarna merah lalu ditempelkan di kertas posternya. Dan inilah hasilnya :
Sebenarnya menurutku ajakan mengikuti challenge ini sangat baik. Secara tidak langsung, anakku tahu akan bahaya Rokok bagi kesehatannya. Di sekolah Faiqa, yaitu SDN Pasar Lama 1 Banjarmasin, budaya PHBS dan Edukasi akan kesehatan memang diajarkan sejak dini. Dampaknya tentu tidak hanya sekarang, tetapi juga membawa kebaikan di masa akan datang.
Selamat Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun 2020.
Cegah Anak dan Remaja Indonesia dari “BUJUKAN” Rokok
31/05/2020
Sumber :


Komentar
Posting Komentar