Langsung ke konten utama

LOMBA FOTO KELUARGA KREATIF



Rabu kemarin (270520) pukul 10.05 Wita, aku dapat chat Whatsapp dari Azmi. Seorang videographer muda yang sering bekerjasama denganku. Baik untuk pembuatan video profil, film pendek ataupun juga hal lain terkait produksi video. Perlu diketahui juga, Azmi adalah merupakan anggota Sanggar Titian Barantai yang mana aku adalah salah satu anggota penggerak (arak) yang dituakan di Sanggar Tersebut. Jadi bisa dibilang, Azmi adalah adik tingkat ku walau terpaut sekian tahun (Sanggar ini berusia 21 tahun, dan aku angkatan kedua).
 
"Pian (Anda) dimana" chatnya. "Di rumah", jawabku pendek. "Befoto bisa kah Kak? Keluarga Kakak. Untuk lomba yang kemarin" Tanyanya melalui chat. Aku pun baru ingat bahwa Azmi pernah meminta untuk mengirimkan beberapa foto kegiatan keluarga saya saat Syuting program Rekam Pandemi, sebuah proyek Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) dan Kemdikbud. Foto itu mau diikutkan "Lomba Foto Keluarga Kreatif" yang digelar oleh Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) Pengda Kalsel. Dan batas waktu upload foto adalah tanggal 27 Mei pukul 23.59 Wita"Kamu ini, malam ini pendaftaran mau ditutup, baru mau kerja, Ya udah, Ke rumahku" Sahutku.

Kedua anak perempuanku, Faiqa dan Difa aku kasih tahu kalau Azmi mau datang, dan mau melakukan pemotretan untuk lomba. Mereka sudah akrab dengan Azmi, karena kedua anakku pernah terlibat dalam beberapa film pendeknya. Sekitar pukul 10.00 Wita, Azmi pun datang, pertama dia menanyakan Kiandra, anak lelaki ku yang paling bungsu. Ku katakan kalau anakku dititipkan. Sedang Mamahnya harus bekerja, dengan jam kerja normal (istriku bekerja di Dinas Kesehatan). 

Setelah memikirkan beberapa konsep dan setting seadanya. Maka kami berempat. Aku, Faiqa, Difa dan Azmi mulai melakukan proses pemotretan. Yang agak susah mengatur dua anak perempuanku. Terkadang uring-uringan. Terkadang bertengkar kecil. Namun syukurlah, sekitar pukul 13.30 pemotretan dapat diselesaikan.  Setelah melihat hasilnya, ku serahkan kepada Azmi untuk melakukan seleksi pada foto yang akan dikirim untuk lomba.

Malamnya, pukul 19.46 Wita. Azmi membagikan link Instagram. Ternyata Foto berjudul "Tetap Bekerja dan Menyapa Keluarga" dan foto berjudul "Selalu Bersih Walau di Rumah" menjadi pilihannya untuk diikutkan lomba.

Dan berikut foto yang diikutkan Azmi dilomba tersebut.
"Tetap Bekerja dan Menyapa Keluarga"

"Selalu Bersih Walau di Rumah"

Dua foto itu akan bersaing dengan puluhan atau mungkin ratusan foto lainnya. Jika pun menang itu adalah sebuah keberuntungan. Kalaupun tidak terpilih, tak mengapa. Karena ada kegembiraan saat bekerja dan berkarya. Terlebih di tengah pandemi, kreatifitas tidak boleh mati.
 
Banjarmasin, 28/05/2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGUNGNYA SI GURU AGUNG

Agung Pardini nama lengkapnya. Akrab dipanggil Guru Agung. Lahir 28 Jummadil Awwal 1441 Hijriah atau sekitaran 4 April 1981 Masehi. Aktif berkarier dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial kemanusiaan.  Mulai sebagai pengajar di banyak lembaga pendidikan non-formal, aktif di Sekolah Guru Indonesia, aktif di Dompet Dhuafa sampai menjadi GM  Sekolah Kepemimpinan Bangsa.   Dan pada pertemuan ke 5 kami di kelas "BELAJAR MENULIS" malam ini. Guru Agung lah yang akan menjadi pemateri. Kali ini Guru Agung akan menguraikan terkait penulisan dan penerbitan buku di bidang pendidikan dan keguruan. Dengan perspektif yang berbeda. Guru Agung berbagi cerita terkait pengalamannya, bergabung di Dompet Dhuafa. Mengajak para guru-guru yang mengabdi di pelosok daerah untuk menulis dan berkarya. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana. Banyak masalah dialami. Gaya bahasa yang berbeda, ...

"BANYAK BACA. RABUN MEMBACA, LUMPUH MENULIS"

"Kita akan mulai kuliah perdana hari senin tanggal 1 juni 2020 pukul 19.00-21.00 wib di WA group", demikian tertulis pesan di WA grup di Sabtu malam yang lalu, dikirim oleh Om Jay demikian guru blogger ini akrab disapa. Maka selesai siaran di TVRI Kalsel pukul 19.05 Wita. Bergegas aku ke Mushola TVRI untuk sholat Magrib. Setelahnya, bersegera aku menaiki motor. Sebelumnya ku pastikan untuk memakai masker terlebih dahulu. Ku lihat jam di HP, menujukkan pukul 19.15. Waktu tempuh dari Kantor TVRI Kalsel ke rumahku biasanya 30 menit. Aku harus tiba di rumah paling tidak sebelum pukul 20.00 Wita. Sudah bulat ku niatkan untuk hadir tepat waktu di ruang belajar. Bahkan, anak-anakku yang biasanya ku bawakan makanan setelah bekerja, sebelum berangkat sore tadi sudah ku beritahu. "Malam ini tidak ada pesan makanan dulu, kalau mau pesan makanan yang cepat saji saja", demikian ucapku pada mereka. Pukul 19.50 Wita aku tiba di rumah. Langsung ku masukan motor ke garasi. Anak-anak...

3 Cara Guru Membangun Optimisme di Era New Normal

Bu Erna, seorang guru dari salah satu Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin tadi sore menghubungi saya melalui obrolan WA. Beliau menanyakan apakah saya memiliki program pembelajaran berbasis alam. Bu Erna dan saya dulu pernah tergabung dalam sebuah proyek dari Unesco dan KOICA yakni program Green School. Ku sampaikan kepada beliau bahwa aku telah punya konsep, namun sulit untuk merealisasikan di tengah pandemi saat ini. Bu Erna melanjutkan bahwa dia merasa kasihan dengan murid-muridnya yang telah beberapa bulan ini telah melaksanakan BDR. Ada rasa bosan, karena tidak ada kegiatan belajar yang lebih interaktif. Beliau ingin melaksanakan pembelajaran berbasis alam yang tetap patuh protokol kesehatan. Setelah berbincang beberapa saat. Tersimpul bahwa kegiatan belajar berbasis alam sangat sulit dilakukan di era pandemi. Bukan hanya karena ada aturan kesehatan yang harus dipatuhi. Namun juga tanggung jawab lain, terutama jika ada siswa yang mendapat dampak buruk pada kesehatannya. Kegiatan bel...