Langsung ke konten utama

"BANYAK BACA. RABUN MEMBACA, LUMPUH MENULIS"


"Kita akan mulai kuliah perdana hari senin tanggal 1 juni 2020 pukul 19.00-21.00 wib di WA group", demikian tertulis pesan di WA grup di Sabtu malam yang lalu, dikirim oleh Om Jay demikian guru blogger ini akrab disapa.

Maka selesai siaran di TVRI Kalsel pukul 19.05 Wita. Bergegas aku ke Mushola TVRI untuk sholat Magrib. Setelahnya, bersegera aku menaiki motor. Sebelumnya ku pastikan untuk memakai masker terlebih dahulu. Ku lihat jam di HP, menujukkan pukul 19.15. Waktu tempuh dari Kantor TVRI Kalsel ke rumahku biasanya 30 menit. Aku harus tiba di rumah paling tidak sebelum pukul 20.00 Wita. Sudah bulat ku niatkan untuk hadir tepat waktu di ruang belajar. Bahkan, anak-anakku yang biasanya ku bawakan makanan setelah bekerja, sebelum berangkat sore tadi sudah ku beritahu. "Malam ini tidak ada pesan makanan dulu, kalau mau pesan makanan yang cepat saji saja", demikian ucapku pada mereka.

Pukul 19.50 Wita aku tiba di rumah. Langsung ku masukan motor ke garasi. Anak-anakku menyambutku, tapi tak ku izinkan mereka mendekat karena aku baru pulang bekerja. "Ulun (aku) kira Papah bawa makanan", ucap Faiqa anak sulungku. "Papah gak sempat beli, karena mengejar waktu belajar" sahutku dengan perasaan kurang nyaman.

Kembali mereka ke kamar. Aku pun segera melepas pakaian lalu memasukkannya ke mesin cuci kemudian mandi. Selesai mandi, dengan masih mengenakan handuk, ku ambil HP dan ku lihat grup WA "Belajar Menulis Gel 12" ada perintah agar peserta mengabsen. Segera ku lakukan absensi di link yang tertera di grup. Selanjutnya aku berpakaian dan mulai menyiapkan diri untuk mengikuti materi malam ini. "Kuliah perdana akan di pimpin oleh guru besar menulis yaitu Omjay", demikian tulis ibu Fatimah yang malam ini sepertinya menjadi moderator kelas.

Kelas Perdana "Belajar Menulis" bersama Om Jay dkk pun dimulai.

"Mohon izin wa group saya tutup dulu untuk keperluan kuliah online lewat wa group. Pukul 19.00 sampai 21.00 WIB" tulisnya. Jadi kelas hanya bisa diisi oleh chat mereka yang berstatus admin.

Ibu Fatimah selaku moderator membagi sessi menjadi 2. Paparan dari Om Jay dan sessi tanya jawab. 
Setelah dipersilakan, Om Jay pun memulai dengan menyampaikan bahwa banyak orang tidak tahu bahwa menulis buku itu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Oleh karena itu beliau menulis setiap hari di blog. Ternyata beliau bisa membuat buku dari hasil menulis di blog. Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit. Tema inilah yang malam ini diberikan dari wa group gelombang 1 sampai 12 secara online di WA group oleh Om Jay.

Om Jay juga menginformasikan bahwa buku Catatan Harian Seorang Guru Blogger diterbitkan dalam waktu 6 bulan. Buku ini dikerjakan dengan sangat teliti oleh pak sukarno yang menjadi editornya. Selama pengerjaan buku tidak pernah satu kalipun kami bertatap muka. Pak Sukarno mengerjakannya di Semarang. Sedangkan omjay ada di bekasi. Berkomunikasi pun hanya lewat WA saja. Tulisan diambil dari kisah nyata omjay yang ditulis di blog kompasiana.com/wijayalabs.

Buku Melejitkan Keterampilan Menulis Siswa diterbitkan dalam waktu 3 bulan. Buku ini adalah hasil penelitian tindakan kelas atau PTK yang lolos masuk final lomba karya tulis inovasi pembelajaran tingkat nasional. Berkat PTK ini omjay mendapatkan laptop baru dan uang jutaan rupiah. Bisa ke bali gratis naik pesawat garuda indonesia dan menginap di hotel bintang 5.

Awalnya omjay tidak tahu kalau hasil ptk bisa dijadikan buku ber ISBN. Setelah belajar sama pak Lukman di jawa timur lewat online, omjay menjadi tahu ilmunya. Ibu Hati di Bandung menawarkan diri menjadi editornya. Tentu saja omjay senang sekali karena belum punya pengalaman sama sekali menulis buku dari hasil PTK. Alhamdulillah buku itu jadi dan banyak yang memesannya. Berkat membuat laporan ptk yang baik beliau dapat hadiah kuliah singkat ke China University of Mining Technology atau CUMT. Omjay belajar STEAM di sana dan pulang bawa uang 21 juta.

Buku Blogger ternama adalah sebuah buku yang diterbitkan dari hasil menulis di blog selama 6 bulan.
Buku ini diterbitkan oleh Pak Wiranto dari penerbit Camp Pustaka. Isinya kisah nyata Omjay menulis di blog dan menjadi blogger ternama. Lewat buku ini Omjay mengajak kawan kawan guru untuk menulis di blog dan kemudian merajut tulisannya menjadi buku yang layak jual. Jadi tidak mengajari guru cara membuat blog. Sebab cara membuat blog dapat dengan mudah kita dapatkan di google.com dan youtube.com. Banyak orang baik yang sudah menuliskannya di internet.

Blogger ternama ditulis dari kisah kisah inspiratif bagaimana seorang guru yang biasa saja dapat menjadi guru yang luar biasa. Bahkan berkat rajin menulis di blog, Omjay diundang keliling Indonesia dan bahkan diajak makan siang di istana negara bersama presiden Joko Widodo. 

Buku Menulislah Setiap Hari adalah buku pertama kali yang Omjay terbitkan di penerbit mayor. Perlu waktu 3 tahun menerbitkan bukunya. Omjay masih belum percaya diri menerbitkan buku. Sebab seringkali ditolak oleh penerbit mayor. Namun omjay tak pernah putus asa. Buku akhirnya jadi berkat jasa Mbak Abdah Khan. Berkat beliau buku itu menjadi enak dan renyah dibaca.

Kemudian buku itu diterbitkan oleh penerbit Indeks Jakarta dengan editor Mas Yuan Acita. Sampai sekarang Omjay belum pernah bertemu orangnya. Kabarnya beliau ada di Padang. Berkat tangan dingin beliau buku ini laku keras dan tersebar ke seluruh Indonesia. Berkat buku ini Omjay membeli rumah baru. Tidak besar tapi cukup untuk berlibur bersama keluarga di Wanaraja Garut Jawa Barat.

Pesan apa yang ingin omjay sampaikan malam ini? 

Omjay ingin menyampaikan kepada kawan kawan guru bahwa kolaborasi itu penting. Keempat buku yang omjay terbitkan adalah berkat kolaborasi antara penulis dan editor. Penerbit yang baik tentu memerluakn waktu dalam proses editingnya. Hal ini kurang disadari oleh para penulis pemula. Apalagi buat kawan guru yg menulis hanya untuk kenaikan pangkat. Jadi menulis buku itu bertujuan berbagi ilmu dan pengalaman. Bukan sekedar menambah point untuk kenaikan pangkat saja.

Setelah pemaparan dari Om Jay. Maka dilanjutkan dengan sessi tanya jawab. Aku sempat berpikir kenapa paparan dan respon pertanyaan agak lama. Ternyata sungguh luar biasa. Malam ini Om Jay menjadi "Sopir di dua buah Bus", demikian bu Fatimah mengistilahkan kelas belajar kami. Memang malam ini Om Jay juga memberi materi belajar menulis di grup WA yang lain. "Kita harus angkat salut malam ini sama Omjay beliau mampu membawa semua bus nya. Alhamdulillah semua bus berjalan lancar " tulis bu Fatimah di WA grup.

Pada sessi tanya jawab, tak ku sangka respon peserta sungguh luar biasa. Aneka pertanyaan disampaikan. Dan hampir semua pertanyaan di jawab oleh Om Jay. Mulai dari bagaimana menjadikan PTK menjadi sebuah buku, motivasi Om Jay pertama kali dalam menulis, trik penulisan buku dan banyak pertanyaan lainnya yang diajukan para peserta. Satu persatu di jawab Om Jay. Ini pertanyaan di "Bus" yang ini, bagaimana pertanyaan di "Bus " satunya. Luar biasa Om Jay...

Tapi ada satu jawaban Om Jay yang sangat menarik bagiku. Pendek, tapi inspiratif. Jawaban atas pertanyaan dari ibu Isnawati dari Kalimantan tengah . "Omjay, seperti apa gambaran tulisan yang akan diperkenankan kita tulis nanti?dan pelajari bersama kami yang masih pemula di gel 12 ini" tanyanya melalui chat yang diteruskan bu Fatimah. Jawaban Om Jay singkat "Banyak baca, Rabun membaca lumpuh menulis". Pendek saja, namun kalimat ini yang masuk menjadi memory dan tersimpan pada bagian prefronta di otakku.

Kalimat itu kemudian mengingatkanku saat dosenku Prof. Rustam Effendi memberi mata kuliah Bahasa Indonesia. Beliau menyampaikan tentang 4 keterampilan berbahasa. Yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Dengan mendengar, maka manusia bisa berbicara. Dan dengan membaca maka manusia bisa menulis.

Terpikir bagiku, besok pulang bekerja singgah sebentar ke toko buku. Beli satu saja, untuk nanti ku baca.


Banjarmasin, 01/06/2020


Komentar

  1. Mantuk.
    https://lusia07.blogspot.com/2020/06/kisah-blogger-ternama-indonesia-menulis.html

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah,luar biasa, teruslah menulis jangan pernah berhenti, terimakasih banyak

    BalasHapus
  3. Suka sekali dengan jawaban om Jay yang jadi judul tulisan bapak
    Rabun membaca, lumpuh menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bu...ini yg paling saya ingat dr kuliah perdana

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGUNGNYA SI GURU AGUNG

Agung Pardini nama lengkapnya. Akrab dipanggil Guru Agung. Lahir 28 Jummadil Awwal 1441 Hijriah atau sekitaran 4 April 1981 Masehi. Aktif berkarier dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial kemanusiaan.  Mulai sebagai pengajar di banyak lembaga pendidikan non-formal, aktif di Sekolah Guru Indonesia, aktif di Dompet Dhuafa sampai menjadi GM  Sekolah Kepemimpinan Bangsa.   Dan pada pertemuan ke 5 kami di kelas "BELAJAR MENULIS" malam ini. Guru Agung lah yang akan menjadi pemateri. Kali ini Guru Agung akan menguraikan terkait penulisan dan penerbitan buku di bidang pendidikan dan keguruan. Dengan perspektif yang berbeda. Guru Agung berbagi cerita terkait pengalamannya, bergabung di Dompet Dhuafa. Mengajak para guru-guru yang mengabdi di pelosok daerah untuk menulis dan berkarya. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana. Banyak masalah dialami. Gaya bahasa yang berbeda, ...

3 Cara Guru Membangun Optimisme di Era New Normal

Bu Erna, seorang guru dari salah satu Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin tadi sore menghubungi saya melalui obrolan WA. Beliau menanyakan apakah saya memiliki program pembelajaran berbasis alam. Bu Erna dan saya dulu pernah tergabung dalam sebuah proyek dari Unesco dan KOICA yakni program Green School. Ku sampaikan kepada beliau bahwa aku telah punya konsep, namun sulit untuk merealisasikan di tengah pandemi saat ini. Bu Erna melanjutkan bahwa dia merasa kasihan dengan murid-muridnya yang telah beberapa bulan ini telah melaksanakan BDR. Ada rasa bosan, karena tidak ada kegiatan belajar yang lebih interaktif. Beliau ingin melaksanakan pembelajaran berbasis alam yang tetap patuh protokol kesehatan. Setelah berbincang beberapa saat. Tersimpul bahwa kegiatan belajar berbasis alam sangat sulit dilakukan di era pandemi. Bukan hanya karena ada aturan kesehatan yang harus dipatuhi. Namun juga tanggung jawab lain, terutama jika ada siswa yang mendapat dampak buruk pada kesehatannya. Kegiatan bel...