Langsung ke konten utama

THE STORIES OF WONDER WOMEN

Apakah tulisanku kali ini akan mengangkat cerita luar biasa tentang tokoh superhero wanita produk DC Comic Amerika? Kiraku tentu saja ada yang berpikir bahkan bertanya-tanya.

Jadi begini, tulisan kali ini ku ambil dari buku "The Stories of Wonder Women (21 Kisah Perempuan Tangguh dengan Perjuangannya) karya Sri Sugiastuti, diterbitkan oleh Pustaka Media Guru. Buku yang menurut penulisnya hanya melalui penerbit indie saja, namun sudah dicetak lebih dari 1000 eksemplar banyaknya. Buku yang ditulis beliau selama 8 bulan, merupakan true story alias kisah nyata. Beliau sebut faksi (fakta tapi fiksi). Karena mengganti tokoh dengan nama samaran bukan nama asli. 

Kok aku bisa tahu? Ya, karena aku mendengar cerita beliau langsung melalui pesan suara di kuliah ketigaku di kelas "Belajar Menulis" bersama Om Jay dkk, yang diselenggarakan kerjasama PGRI dan Penerbit Andi.

Beruntung di kuliah ketiga belajar menulisku yang dihadirkan adalah ibu Sri Sugiastuti. Sang Wonder Women yang beraksi malam ini. Seorang perempuan tangguh yang mampu menuliskan sekian banyak buku dengan berbagai genre. Mulai dari fiksi, fakta, novel, buku ajar dan buku motivasi hingga 25 buah buku antologi. Dari yang diterbitkan penerbit mayor hingga penerbit indie.

Menarik mendengar kisah perjalanan panjang kehidupan menulis bu Sri. Semangatnya ditiru, beliau ketika hampir mendekati usia 50 tahun menulis buku. Dengan bekal pedoman, terus berusaha dan belajar hingga ketagihan menulis buku. Beliau selalu upgrade diri hingga bisa naik kelas. Demikian bu Sri mengistilahkannya.

Perjalanan menulisnya dimulai ketika tahun 2007 setelah 25 tahun terjeda. Bu Sri mengambil kuliah S-2. Saat itulah harus berkenalan dengan internet, media sosial, perpustakaan dan toko buku untuk keperluan  referensi kuliahnya. Sampai akhirnya menemukan buku "Menulis itu Gampang" tulisan kang Ersis (akrab beliau panggil Ewa).  

Saat mendengar nama Ersis, terpikir aku. Apakah Pak Ersis Warmansyah Abbas?, Dosen Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tempatku kuliah. Aku pernah sesekali bertemu dan aku juga pernah membaca buku yang disunting Pak Ersis berjudul "Menulis Mudah (Dari Babu Sampai Pak Dosen)". Apakah benar beliaulah si Ewa? Hal ini tak sempat ku tanya.

Kembali ke cerita Bu Sri Sugiastuti. Di tahun 2009 silam saat pertemuan para guru Bahasa Inggris di acara MGMP. Ternyata ada salah satu teman beliau mengajak menulis buku ajar. Menyusun buku seri pendalaman materi (SPM) ujian nasional Bahasa Inggris SMK/MAK. Bu Sri pun menyetujui. Lalu 6 bulan setelah direvisi, pada bulan oktober 2010 diterbitkanlah buku ini. Dan walaupun sebenarnya penulisnya 2 orang, tapi salah satu tim penyusun dari penerbit mayor tersebut diikut sertakan. Hingga jumlah penulispun menjadi 3 orang.

Nah, dari buku inilah mulai merasakan keuntungan dan juga kepuasan. Utamanya tentu sebuah kepuasan, karena buku ini dipakai secara nasional. Dan pastinya juga keuntungan, dimana royalti yang mengalir ke buku rekening setiap semester menjadi sumber pemasukan. Alhamdulillah buku tersebut laris manis. Tahun 2015 ada edisi revisi. Penulisnya ditambah lagi 1 orang. Buku (SPM) ini bahkan masuk sebagai buku yang dibeli untuk pengadaan buku. Berdampak pada omset penjualan yang tinggi dan berimbas juga dengan penulis yang mendapatkan "angka" alias rupiah yang tinggi.

Bu Sri, juga menerbitkan buku secara indie. Tahun 2009 sudah menulis, dan tahun 2010 sudah jadi buku. Dulunya masih dengan nama pena Astutiana Mujono. Beliau menulis apa yg dipikirkan hingga mencapai 418 halaman. Buku yang berkisah tentang kehidupan bu Sri sendiri.

Seperti disampaikan di awal tadi. Bahwa Bu Sri telah menulis 25 buku antologi. Saat bertemu Omjay tahun 2013, Sudah menerbitkan 3 buku parenting secara Islami. Buku yang diterbitkan secara semi mayor. Lalu menulis buku berjudul "Ku Gelar Sajadah Cinta". Beliau tidak mengeluarkan uang untuk penerbitan, akan tetapi diberi 100 buku untuk dijual dan mendapat diskon 40%. Tahun 2017 ketika ditayangkan ke penerbit, Alhamdulillah ternyata masih ada royaltinya.

Dalam proses belajar menulis dan menerbitkan sendiri itu, menurut Bu Sri rasanya gurih-gurih sedap. Bu Sri memiliki rasa ingin tahu besar, selalu ingin belajar. Untuk membuat blog misalnya, bu Sri sampai memanggil mentor untuk mengajari membuatnya. Walau menurut bu Sri, hasilnya cuma pengalaman saja karena hasil didapat tidak maksimal

Dengan adanya berbagai macam dunia kepenulisan, membuat beliau semakin tertarik. Beberapa kali mengikuti pelatihan. Baik dalam jaringan (daring/online) atau luar jaringan (luring/offline). Bu Sri akan memastikan diri untuk ikut. Selain silaturrahmi juga mengenal teman yang berprofesi sebagai penulis. "Kalau ingin bisa menulis, maka bergaulnya dengan penulis", demikian ucap bu Sri.

Saat ini Bu Sri memiliki banyak komunitas. Selain grup Omjay. Bu Sri juga bergabung dengan grup atau komunitas literasi. Walau sudah biasa menulis, namun beliau tetap perlu asupan gizi dari orang hebat yang perhatian dengan gerakan literasi. Tersebut oleh bu Sri, ada Komunitas Sahabat pena kita, Pegiat Literasi Nusantara, Asosiasi Guru Menulis hingga Komunitas Ibu-ibu Doyan Menulis. Ada sekitar 20-25 grup yang diikuti. Dengan aktif dan mengambil manfaat dari grup tersebut.

Dari komunitas itulah hampir dalam tiap hitungan 2 atau 3 bulan pasti sebuah buku Antologi bisa diterbitkan. Atau dalam kata lain ada tulisan yang sudah bisa dibukukan. Hingga sekitar 25 buku antologi telah bersama diterbitkan oleh beliau dan rekan.

Di saat pandemi corona. Bu Sri tak ketinggalan menuliskannya. Naskah baru yang dalam proses masuk di dapur penerbitan. Dari Menulis di blog, lalu dikumpulkan. Maka ada sekitar 37 sub judul yang disiapkan. Insya Allah awal bulan Juli akan menjadi buku.  Menceritakan tokoh bernama Bu Kanjeng. Yang menggunakan kacamata 5 dimensinya untuk melihat, merasakan dan berpikir positif akan kejadian selama dunia melawan virus corona.

Itulah cerita panjang, namun cukup singkat yang dikisahkan oleh bu Sri Sugiastuti, seorang penulis serba bisa. Waktu 2 jam yang tersedia, tentu tak cukup untuk bercerita tentang semua. Apalagi setelah sessi paparan, juga ada sessi untuk bertanya.

Lanjutlah dengan pertanyaan "siswa" di sessi kedua. Tentu banyak sekali pertanyaan yang diajukan karena sajian materinya sungguh menggoda. Tak bisa ku tuliskan semua. Pertanyaan dari mulai kesulitan dalam penulisan, hingga bagaimana membangkitkan semangat menulis muncul di dada. Ketika menjawab pertanyaan "siswanya" dari seluruh nusantara. Bu Sri juga tak segan berbagi tips hingga file teori untuk dibaca, sebagai pencerahan katanya.

Dan sampailah pada kesimpulan 

Bu Sri menyatakan bahwa menulis itu keterampilan, bukan bakat. Jadi latihlah dan tulislah berbagai ide yang berserak di sekitar  kita. Jadikan menulis dan membaca sebagai gaya hidup dan tentu saja membaca yang selektif dengan kacamata yang utuh, ajaknya. Selanjutnya istiqamahlah dalam menulis. Lalu biarkan tulisan itu menemui takdirnya. Jangan risau, tetaplah menulis dan belajar mengupgrade diri agar naik kelas. Dan satu lagi menulislah apa  yang disukai dan kuasai.

Selama kurang lebih 2 jam. Mendengar dan menyimak cerita sang Wonder Women. Agak berbeda dengan Wonder Womannya DC comic yang bersenjata laso, tameng dan pedang. Bu Sri"Wonder Women" Sugiastuti. cuma bersenjata tulisan yang dibukukan. Namun mampu memberi hiburan, edukasi dan pencerahan dalam kehidupan.

Mendengar cerita dari Bu Sri Sugiastuti. Salah satu wanita luar biasa (wonder women) yang menginspirasi. Dari dulu bahkan hingga kini, aku masih punya mimpi. Untuk bisa menulis buku dan menerbitkannya. Tapi tak tahu seperti apa dan darimana memulainya. Tapi setelah ikut di kelas “Belajar Menulis” ini. Terlebih setelah belajar dari ibu Sri. Aku harus bisa wujudkan mimpi.

Nanti, tidak hanya membuat buku untuk diriku sendiri. Bahkan aku akan ajak komunitasku untuk juga terlibat aktif di dunia literasi. Kan ku ajak siswa, kawan, rekan kerja, sahabat, siapapun untuk berani menuliskan ceritanya. Membukukannya, untuk kemudian membuktikan bahwa menulis itu bisa dilakukan. Karena seperti bu Sri “Wonder Women” Sugiastuti sampaikan, bahwa menulis adalah sebuah keterampilan.

Thanks Wonder Women.

SEMANGAT MENULIS !!!

SALAM LITERASI !!!

 

Handil Bakti, 07/06/2020

 

 

M. H. Pahdi

Eits...yang ingin tahu banyak tentang beliau langsung aja ke http://www.srisugiastutipln.com/   ya...

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGUNGNYA SI GURU AGUNG

Agung Pardini nama lengkapnya. Akrab dipanggil Guru Agung. Lahir 28 Jummadil Awwal 1441 Hijriah atau sekitaran 4 April 1981 Masehi. Aktif berkarier dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial kemanusiaan.  Mulai sebagai pengajar di banyak lembaga pendidikan non-formal, aktif di Sekolah Guru Indonesia, aktif di Dompet Dhuafa sampai menjadi GM  Sekolah Kepemimpinan Bangsa.   Dan pada pertemuan ke 5 kami di kelas "BELAJAR MENULIS" malam ini. Guru Agung lah yang akan menjadi pemateri. Kali ini Guru Agung akan menguraikan terkait penulisan dan penerbitan buku di bidang pendidikan dan keguruan. Dengan perspektif yang berbeda. Guru Agung berbagi cerita terkait pengalamannya, bergabung di Dompet Dhuafa. Mengajak para guru-guru yang mengabdi di pelosok daerah untuk menulis dan berkarya. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana. Banyak masalah dialami. Gaya bahasa yang berbeda, ...

"BANYAK BACA. RABUN MEMBACA, LUMPUH MENULIS"

"Kita akan mulai kuliah perdana hari senin tanggal 1 juni 2020 pukul 19.00-21.00 wib di WA group", demikian tertulis pesan di WA grup di Sabtu malam yang lalu, dikirim oleh Om Jay demikian guru blogger ini akrab disapa. Maka selesai siaran di TVRI Kalsel pukul 19.05 Wita. Bergegas aku ke Mushola TVRI untuk sholat Magrib. Setelahnya, bersegera aku menaiki motor. Sebelumnya ku pastikan untuk memakai masker terlebih dahulu. Ku lihat jam di HP, menujukkan pukul 19.15. Waktu tempuh dari Kantor TVRI Kalsel ke rumahku biasanya 30 menit. Aku harus tiba di rumah paling tidak sebelum pukul 20.00 Wita. Sudah bulat ku niatkan untuk hadir tepat waktu di ruang belajar. Bahkan, anak-anakku yang biasanya ku bawakan makanan setelah bekerja, sebelum berangkat sore tadi sudah ku beritahu. "Malam ini tidak ada pesan makanan dulu, kalau mau pesan makanan yang cepat saji saja", demikian ucapku pada mereka. Pukul 19.50 Wita aku tiba di rumah. Langsung ku masukan motor ke garasi. Anak-anak...

3 Cara Guru Membangun Optimisme di Era New Normal

Bu Erna, seorang guru dari salah satu Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin tadi sore menghubungi saya melalui obrolan WA. Beliau menanyakan apakah saya memiliki program pembelajaran berbasis alam. Bu Erna dan saya dulu pernah tergabung dalam sebuah proyek dari Unesco dan KOICA yakni program Green School. Ku sampaikan kepada beliau bahwa aku telah punya konsep, namun sulit untuk merealisasikan di tengah pandemi saat ini. Bu Erna melanjutkan bahwa dia merasa kasihan dengan murid-muridnya yang telah beberapa bulan ini telah melaksanakan BDR. Ada rasa bosan, karena tidak ada kegiatan belajar yang lebih interaktif. Beliau ingin melaksanakan pembelajaran berbasis alam yang tetap patuh protokol kesehatan. Setelah berbincang beberapa saat. Tersimpul bahwa kegiatan belajar berbasis alam sangat sulit dilakukan di era pandemi. Bukan hanya karena ada aturan kesehatan yang harus dipatuhi. Namun juga tanggung jawab lain, terutama jika ada siswa yang mendapat dampak buruk pada kesehatannya. Kegiatan bel...