Langsung ke konten utama

MENYULAP PTK MENJADI BUKU


Terlambat mungkin menuliskannya. Hingga hampir lupa beberapa bagian yang ku alami sebelum masuk di kelas "BELAJAR MENULIS" bersama Om Jay dkk, pada Rabu malam, 03 Juni 2020 kemarin.
Beberapa hal yang ku ingat adalah setelah bertugas di TVRI Kalsel pukul 19.00 Wita lalu aku sholat Magrib di Mushola kantor. Aku kembali bergegas pulang. Namun sedikit berbeda dengan "kuliah" perdana. Malam kemarin aku masih sempat membelikan makanan untuk istri dan anakku di rumah.

Setiba di rumah, ku masukan motor ke garasi. Dan seperti hari-hari yang lewat, kedatanganku selalu di sambut anak-anakku. Mereka bersembunyi di belakang pintu, bercanda dengan berusaha mengejutkanku. Aku tertawa, mereka gembira. Terasa berkurang kepenatan setelah bekerja. 

Ku letakkan  makanan yang tadi ku belikan untuk mereka. Protokol kesehatan dijalankan. Mencuci baju dan mandi harus dilakukan. Setelahnya aku mengambil HP, mengisi absensi di kelas "Belajar Menulis" harus aku pastikan. Kalau tidak salah sekitar 19.53 Wita absen online telah ku kirimkan.

Menyempatkan untuk shalat Isya dulu. Kemudian aku hidupkan laptop dan mulai mengikuti materi di kelas. Materi disajikan ibu Hati Nurahayu, seorang editor handal dari Bandung. Kuliah dimoderatori oleh ibu Fatimah dari Aceh. Seperti kuliah perdana, kelas tetap dibagi 2 sessi. Sessi menyimak materi dan sessi pertanyaan.

Sessi Materi
Materi dari bu Hati (demikian beliau akrab dipanggil), tentang menerbitkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Walaupun diminta sebagai pemateri dadakan. Namun ku pikir materi yang beliau sampaikan cukup menarik. Beliau menyampaikan tidak hanya dari teori, akan tetapi juga memotivasi bahkan menginspirasi "siswa" di kelas Belajar Menulis ini untuk mampu membukukan PTK. 
  
Tidak hanya menyampaikan melalui chat saja. Melengkapi materinya, beliau juga bagikan 2 buah file berisi tentang "Trik mengubah PTK, Best Practice Menjadi Buku" dan "Menulis Tindakan Kelas". File ini dibagikan beliau untuk terlebih dahulu dibaca "siswa". Dan nantinya lebih diperjelas dalam sessi pertanyaan.

Sessi Pertanyaan
Masuk di sessi pertanyaan ini, bu Fatimah selaku moderator pun mempersilakan "siswa" untuk bertanya. Aku pun turut mengirim pertanyaan. Dan ternyata, pertanyaanku adalah pertanyaan perdana untuk ditanggapi oleh bu Hati.

"PTK yang dibuat oleh 2 orang guru apakah bisa dijadikah buku? dan Berapa minimal halaman PTK untuk dapat dijadikan buku?" kira-kira seperti itulah pertanyaanku.

"Boleh  2 orang, kan buku beda lagi nilainya dengan PTK. Kita mengembangkan  dari isi PTK kita lebih  ke versi buku seperti yang saya share filenya.   Jadi tidak masalah" jawab bu Hati.
"Amannya 70 halaman.  dan isi materi bahasan  lebih diperbanyak jangan sesimpel PTK" lanjutnya.

Terjawab sudah pertanyaanku. Dan setelahnya menyusul pertanyaan-pertanyaan "siswa" lain seputar materi yang disajikan bu Hati. Sepertinya waktu 2 jam di kelas, tidak cukup untuk mendiskusikan materi yang disajikan. Sekitar pukul 22.45 Wita kelas pun diakhiri. 

Kesimpulan dari ibu Hati adalah Agar KTI kita lebih  double manfaat, maka dibukukan lebih baik dan bisa dibaca oleh pendiidk lainnya. Daripada berbagi file PTK kita,  dibukukan memiliki ISBN  dan menjadi karya kita tak lekang oleh waktu kebermanfaatannya.


Selesai kuliah "Belajar Menulis". Ku hirup teh yang sudah dingin yang disiapkan istriku. Terpikir untuk mengajak salah satu guru di sekolah untuk kolaborasi membuat PTK. Aku pernah menawarkan padanya untuk bekerjasama, dan dia pun bersedia. Semoga setelah pandemi, kembali kami bersua di tempat kerja. Dan pembicaraan kami hampir setahun lalu untuk membuat PTK, akan kami buat nyata. 

Dan dalam inginku, PTK itu akan ku sulap menjadi Buku.


M. H. Pahdi



Komentar

  1. Bagus pak, semoga tercapai impiannya..

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah , jika ada kemauan pasti ada jalan, gapailah cita-cita yang tertunnda dengan keyakinan yang kuat, terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AGUNGNYA SI GURU AGUNG

Agung Pardini nama lengkapnya. Akrab dipanggil Guru Agung. Lahir 28 Jummadil Awwal 1441 Hijriah atau sekitaran 4 April 1981 Masehi. Aktif berkarier dalam dunia pendidikan dan gerakan sosial kemanusiaan.  Mulai sebagai pengajar di banyak lembaga pendidikan non-formal, aktif di Sekolah Guru Indonesia, aktif di Dompet Dhuafa sampai menjadi GM  Sekolah Kepemimpinan Bangsa.   Dan pada pertemuan ke 5 kami di kelas "BELAJAR MENULIS" malam ini. Guru Agung lah yang akan menjadi pemateri. Kali ini Guru Agung akan menguraikan terkait penulisan dan penerbitan buku di bidang pendidikan dan keguruan. Dengan perspektif yang berbeda. Guru Agung berbagi cerita terkait pengalamannya, bergabung di Dompet Dhuafa. Mengajak para guru-guru yang mengabdi di pelosok daerah untuk menulis dan berkarya. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana. Banyak masalah dialami. Gaya bahasa yang berbeda, ...

"BANYAK BACA. RABUN MEMBACA, LUMPUH MENULIS"

"Kita akan mulai kuliah perdana hari senin tanggal 1 juni 2020 pukul 19.00-21.00 wib di WA group", demikian tertulis pesan di WA grup di Sabtu malam yang lalu, dikirim oleh Om Jay demikian guru blogger ini akrab disapa. Maka selesai siaran di TVRI Kalsel pukul 19.05 Wita. Bergegas aku ke Mushola TVRI untuk sholat Magrib. Setelahnya, bersegera aku menaiki motor. Sebelumnya ku pastikan untuk memakai masker terlebih dahulu. Ku lihat jam di HP, menujukkan pukul 19.15. Waktu tempuh dari Kantor TVRI Kalsel ke rumahku biasanya 30 menit. Aku harus tiba di rumah paling tidak sebelum pukul 20.00 Wita. Sudah bulat ku niatkan untuk hadir tepat waktu di ruang belajar. Bahkan, anak-anakku yang biasanya ku bawakan makanan setelah bekerja, sebelum berangkat sore tadi sudah ku beritahu. "Malam ini tidak ada pesan makanan dulu, kalau mau pesan makanan yang cepat saji saja", demikian ucapku pada mereka. Pukul 19.50 Wita aku tiba di rumah. Langsung ku masukan motor ke garasi. Anak-anak...

3 Cara Guru Membangun Optimisme di Era New Normal

Bu Erna, seorang guru dari salah satu Sekolah Dasar di Kota Banjarmasin tadi sore menghubungi saya melalui obrolan WA. Beliau menanyakan apakah saya memiliki program pembelajaran berbasis alam. Bu Erna dan saya dulu pernah tergabung dalam sebuah proyek dari Unesco dan KOICA yakni program Green School. Ku sampaikan kepada beliau bahwa aku telah punya konsep, namun sulit untuk merealisasikan di tengah pandemi saat ini. Bu Erna melanjutkan bahwa dia merasa kasihan dengan murid-muridnya yang telah beberapa bulan ini telah melaksanakan BDR. Ada rasa bosan, karena tidak ada kegiatan belajar yang lebih interaktif. Beliau ingin melaksanakan pembelajaran berbasis alam yang tetap patuh protokol kesehatan. Setelah berbincang beberapa saat. Tersimpul bahwa kegiatan belajar berbasis alam sangat sulit dilakukan di era pandemi. Bukan hanya karena ada aturan kesehatan yang harus dipatuhi. Namun juga tanggung jawab lain, terutama jika ada siswa yang mendapat dampak buruk pada kesehatannya. Kegiatan bel...